Air minum yang disiapkan di atas meja makan itu ternyata istimewa. Untuk bisa sampai ke meja makan, ia perlu melewati beberapa proses terlebih dahulu. Disitulah ada pengorbanan yang dikeluarkan oleh orang yang telah menyediakannya. Bisa jadi orang tua kita atau yang lain.
Awalnya ia harus membuat api dahulu. Kalau belum ada kompor gas, berarti ia harus menyalakan api menggunakan kayu. Ada upaya untuk menghidupkan, meniup kalau apinya belum hidup. Itu berarti harus dekat dengan api. Panas api yang dirasakan, terkadang juga asap yang mengganggu tak bisa dielakkan.
Setelah api menyala, ia harus mengisi panci dengan air bersih. Ia angkat, lalu diletakkan diatas tungku yang sudah ada apinya tadi. Panci yang sudah ditaruh diatas tungku harus pas.
Meski tugas meletakkan panci sudah selesai, bukan berarti beres dan bisa ditinggal tidur. Ia harus memastikan api tetap menyala sampai air mendidih. Kalau kayu bakar nya habis, ia harus segera menambahkan lagi.
Kalau sudah mendidih, terkadang ia harus menurunkan panci. Dan itu panas lho panci nya. Ia harus pakai kain. Setelah diturunkan, ia harus menunggu sampai dingin. Proses ini bisa berjam-jam, bahkan sampai satu hari.
Nah kalau sudah dingin, air nya baru bisa dipindahkan ke teko untuk dihidangkan. Ia harus mengisi teko dulu dan membawanya ke meja makan.
Begitulah, ada proses yang mungkin panjang dan berat untuk mendapatkan sesuatu. Jadi jangan sampai kita meremehkan apa yang ada di hadapan. Kemudian berusaha untuk menjadi orang yang bersyukur.
Komentar
Posting Komentar